top of page

ꦢꦸꦂꦒꦱꦶꦔꦱꦫꦶ • ꦯꦏ꧀ꦠꦶ • ꦥꦸꦫ꧀ꦮꦨꦏ꧀ꦠꦶ

ARCA DURGA MAHISASURAMARDHINI

Arca Durga merupakan salah satu tinggalan arkeologi penting dalam perkembangan agama Hindu di Indonesia, terutama pada masa klasik Jawa Timur. Arca Durga berasal dari Candi Jawi. Dalam ajaran Hindu, Durga dikenal sebagai sakti Dewa Siwa yang berperan sebagai pelindung sekaligus penghancur kekuatan jahat. Durga merupakan salah satu perwujudan Parvati dalam bentuk marah (krodha). Arca Durga biasanya ditempatkan pada relung utara candi Siwaistik bersama arca Ganesha dan Agastya. Di Indonesia, Durga umumnya digambarkan sebagai Mahisasuramardhini, yaitu sosok Durga yang mengalahkan raksasa Mahisa. Bentuk arca di Jawa menunjukkan adanya penyesuaian dengan budaya lokal, baik dari gaya pahatan, ekspresi wajah, maupun atributnya. Untuk memahami makna arca secara lebih mendalam digunakan pendekatan ikonografi Erwin Panofsky yang terdiri dari tahap pra-ikonografi, ikonografi, dan interpretasi ikonografi.

arca durga mahisa_edited.jpg

Source Photo: INCAR. Disbudpar Prov. Jatim

Deskripsi Arca Durga (Pra-Ikonografi)

Arca Durga memiliki ukuran tinggi 1,57 meter dan lebar 1,15 meter. Arca tersebut merepresentasikan Durga sebagai Mahisa Suramardini. Pada bagian atas, arca ini menggunakan mahkota bertingkat, dengan wajah yang tenang, hidung mancung, dan bibir tipis. Arca ini menggunakan sepasang anting yang menggantung hingga bahu, serta tiga buah kalung. Kalung pertama menempel di leher, kalung kedua berada di atas dada, dan kalung ketiga menjuntai hingga bagian atas perut dengan motif flora. Pada bagian dada terdapat motif geometris. Arca ini memiliki kelat bahu berjumlah 8 buah dan gelang berjumlah 8 buah yang bermotif. Tangan arca berjumlah 8 buah, terdiri dari 4 tangan kiri dan 4 tangan kanan. Tangan kanan atas memegang busur, tangan kanan tengah memegang cakra, tangan kanan bawah memegang kepala asura, dan tangan kanan depan memegang perisai berbentuk oval yang bagian tengahnya dihiasi bunga dan sulur.

durga djoko luknanto.jpg

Source Photo: Djoko Luknanto

Sementara itu, tangan kiri atas memegang trisula, tangan kiri tengah memegang pisau, tangan kiri bawah memegang sangkha (cangkang kerang), dan tangan kiri paling bawah memegang ekor kerbau. Pada bagian perut terdapat ikat pinggang, dan dari ikat pinggang tersebut menjuntai dua buah selendang. Arca ini juga menggunakan kain bawah atau dhoti yang menutupi bagian pinggang hingga pergelangan kaki dengan motif bunga. Pada bagian tengah kain terdapat lipatan halus. Bagian kaki digambarkan terbuka lebar dan ditekuk, dengan masing-masing kaki menggunakan tiga buah gelang kaki. Arca ini memijak tubuh kerbau (mahisa). Posisi kaki yang terbuka dan tertekuk sambil memijak tubuh kerbau berada di atas lapik.

Analisis Ikonografi (Makna Konvensional)

Analisis ikonografi digunakan untuk memahami hubungan antara bentuk visual arca dengan konsep keagamaan yang melatarbelakanginya.

Unsur seperti atribut, sikap tubuh, busana, dan ekspresi wajah menunjukkan identitas serta fungsi religius arca.
Durga dikenal sebagai shakti atau pasangan Dewa Siwa yang melambangkan kekuatan dan perlindungan.

Dalam tradisi Hindu, Durga memiliki sembilan wujud yang disebut sebagi Nava Durga dan sering digambarkan dengan banyak tangan yang membawa berbagai senjata atau benda simbolis.

Setiap wujud Dewi Durga dipuja pada malam tertentu untuk mengalahkan kekuatan jahat dan untuk menegakkan Dharma.

 
Pada Candi Jawi, Durga digambarkan berdiri di atas lembu dan memiliki keterkaitan dengan wujud Kaumari serta arca Ardhanari yang memadukan unsur Durga dan Siwa.

Analisis ikonografi digunakan untuk memahami hubungan antara bentuk visual arca dengan konsep keagamaan yang melatarbelakanginya.

Interpretasi Ikonografi (Makna Simbolik)

Arca Durga sebagai Mahisasuramardhini melambangkan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kejahatan) serta pengendalian kekuatan liar dan destruktif. Kerbau menjadi simbol sifat kebinatangan manusia seperti hawa nafsu, kemarahan, dan kebodohan, sedangkan Durga melambangkan kekuatan ilahi yang menjaga keseimbangan kosmos. Delapan tangan Durga menunjukkan kekuatan yang melampaui manusia biasa.

Setiap atribut memiliki makna simbolis, seperti trisula sebagai lambang penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran, cakra sebagai hukum kosmik, perisai sebagai perlindungan, serta pisau sebagai pemotong kebodohan. Keseluruhan arca mencerminkan kekuatan feminin ilahi yang menjaga harmoni dunia sekaligus menjadi simbol pengendalian diri dan keseimbangan hidup.

ꦢꦸꦂꦒꦱꦶꦔꦱꦫꦶ • ꦯꦏ꧀ꦠꦶ • ꦥꦸꦫ꧀ꦮꦨꦏ꧀ꦠꦶ

epilogue durga

Arca Dewi Durga merupakan salah satu tinggalan arkeologi penting dalam perkembangan agama Hindu di Indonesia, khususnya pada masa klasik Jawa Timur. Durga dikenal sebagai sosok pelindung sekaligus penghancur kekuatan jahat. Di Indonesia, arca Dewi Durga umumnya digambarkan sebagai Mahisasuramardhini, yaitu sosok yang mengalahkan raksasa Mahisa yang memiliki kekuatan melebihi manusia biasa.

Arca ini bukan hanya sekadar patung, tetapi juga menjadi simbol keseimbangan kehidupan. Hal tersebut dapat diperhatikan melalui atribut yang dikenakan oleh arca, seperti trisula, cakra, kepala asura, dan atribut lainnya yang melambangkan berbagai aspek kehidupan. Atribut-atribut tersebut menyampaikan pesan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada kemampuan menghancurkan, tetapi juga pada kemampuan mengendalikan, menjaga, dan menstabilkan harmoni kehidupan.

Selain itu, Durga yang menapaki tubuh kerbau juga menyimbolkan kemenangan sekaligus ketegasan terhadap diri sendiri, seperti dalam mengendalikan hawa nafsu. Arca ini menjadi cerminan keyakinan masyarakat mengenai keseimbangan dan pengendalian emosi. Kisah Durga yang menaklukkan Mahisa juga mengingatkan manusia bahwa setiap masa memiliki bentuk kekacauannya sendiri, dan keseimbangan hanya dapat tercapai ketika manusia mampu mengelola sisi-sisi liar dalam dirinya maupun lingkungannya.

Academic References & Historical Sources

Soekmono, R. (1974). Candi: Fungsi dan Pengertiannya. Jakarta: Universitas Indonesia.

Hardjowardojo, R. P. (1965). Adiparwa. Jakarta: Bhratara. (Classical Javanese text analysis on the Durga Mahisasuramardhini mythology).

Adhitama, Satria (2023). Analisis Keharmonisan Antara Agama Hindu Dan Buddha Pada Candi Jawi, Volume 7 Nomor 3 (2023) ISSN : 2579-9843 (Media Online),  Hal 330-345.

ARCA DURGA • SINGASARI • DEWI DURGA • MAHISASURAMARDHINI • CANDI JAWI • ANCIENT LEGACY •

DIVINE WISDOM CHRONICLES

ꦏꦂꦩ • ꦯꦏ꧀ꦠꦶ • ꦢꦸꦂꦒ • ꦱꦶꦔꦱꦫꦶ • ꦏꦂꦩ • ꦯꦏ꧀ꦠꦶ • ꦢꦸꦂꦒ • ꦱꦶꦔꦱꦫꦶ

Statues are not just relics of the past, but traces of human memory that continue to live in space and time

DURGA MAHISASURAMARDHINI

Connect with sacred teachings and ancient truths as we walk the path of enlightenment together. Join our circle to rediscover the light of Shakti.

bottom of page